UNTUK DAERAH LAIN


حزب التحرير

Friday, March 28, 2008

Ulasan pasar 27 Maret 2008

  • Angka pengangguran ini mengindikasikan lapangan kerja AS dipangkas atau menunda penyewaan tenaga kerja, seiring penurunan sektor perumahan meningkatkan kemungkinan resesi.
  • Pengeluaran konsumen, yang mengkontribusi lebih dari 2/3 ekonomi, naik pada laju 2.3% tahunan di kwartal keempat.
  • Sektor perumahan Inggris makin berkurang dan laporan terakhir masih menunjukkan bahwa penurunan sektor perumahan akan semakin dalam.
  • Pernyataan Fed -- Jelas bahwa ekonomi AS melambat dalam beberapa periode yang kemudian menjadi resesi.
  • Investasi Bisnis di Inggris meningkat pada level tertinggi lebih dari 2 tahun di kwartal keempat.
Klaim Pengangguran Awal


Angka penduduk Amerika yang mengklaim tunjangan pengangguran di awal jatuh minggu lalu, sementara ukuran yang lebih stabil untuk pasar tenaga kerja naik hingga area tertinggi untuk 2 ½ tahun. Klaim pengangguran awal jatuh 9,000 menjadi sebesar 366,000 di minggu terakhir 22 Maret, menurut Departement Tenaga Kerja di Washington. Rata-rata 4 minggu untuk klaim awal naik untuk 3 minggu berturut-turut, mencapai 358,000, level tertinggi sejak Oktober 2005. Angka ini mengindikasikan lapangan kerja AS dipangkas atau menunda penyewaan tenaga kerja, seiring penurunan sektor perumahan meningkatkan kemungkinan resesi. Sedikitnya tenaga kerja akan memperlambat pengeluaran konsumen, yang merupakan 2/3 dari ekonomi keseluruhan. Klaim tersebut yang dipengaruhi oleh bangkrutnya General Motor Corp, supplier terbesar yang ditutup akibat berkurang nya output di fasilitas perusahaan manufaktur Amerika Utara GM. Pekerja yang secara tidak langsung kehilangan pekerjaannya karena faktor tersebut masih menyukai kondisi untuk mengklaim tunjangan, dan figure yang ditunjukkan ini terjadi di Ohio maupun Michigan, menurut juru bicara Departement Tenaga Kerja. “Kenaikan rata-rata 4 minggu mengindikasikan laporan NFP berikutnya akan terlihat lemah.



Hasil Akhir GDP Q4 2007


Ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan 0.6% dari Oktober hingga Desember sesuai perkiraan. Laporan ini merupakan estimasi akhir yang disediakan oleh pemerintah. Laporan awal untuk pertumbuhan kwartal pertama akan dirilis tanggal 30 April. Ada beberapa laporan bagus yang terlihat dari laporan : harga melaju naik 2.4% 3 bulan terakhir 2007, turun dari 2.7% estimasi sebelumnya. Di luar bahan pokok dan bahan bakar, konsumen membayar 2.5% untuk barang dan jasa pada rate tahunan, turun dari proyeksi 2.7% bulan lalu. Pengeluaran konsumen, yang mengkontribusi lebih dari 2/3 ekonomi, naik pada laju 2.3% tahunan di kwartal keempat, direvisi naik dari 1.9% estimasi sebelumnya. Spending naik 2.8% di kwartal ketiga, dan pengeluaran dapat tumbuh pada rate tahunan sebesar 0.5% dari Januari hingga Maret 2008, kenaikan terkecil sejak resesi 1991, menurut nilai tengah survey estimasi ekonomi sebelumnya untuk bulan ini.



Persetujuan Kredit Inggris Jatuh


Sektor perumahan Inggris makin berkurang dan laporan terakhir masih menunjukkan bahwa penurunan sektor perumahan akan semakin dalam. Dilaporkan kemarin bahwa persetujuan kredit Inggris jatuh 33% di Februari seiring tingginya biaya kredit mulai menimbulkan kerugian, hingga membatasi pembelian rumah. Asosiasi Bankers Inggris (BBA) mengatakan bahwa bank menyetujui 43,870 pinjaman untuk tujuan pembelian rumah, turun ½ dari Februari 2007. Persetujuan untuk re-mortgage naik 5.5% dari tahun sebelumnya menjadi 72,193. “Laporan ini secara keseluruhan negatif untuk Poundsterling, meskipun faktor ekonomi lain mendukung mata uang tersebut. Sektor perumahan Inggris telah menurun untuk sementara dan Trader menyadari efek negatif sektor perumahan secara meluas pada ekonomi, seperti halnya yang terjadi di Amerika



Pernyataan dari Pejabat Fed


Jelas bahwa ekonomi AS melambat dalam beberapa periode yang kemudian menjadi resesi. GDP AS di Q1 menunjukkan "Tumbuh meskipun sedikit" Tapi berkemungkinan untuk menghindari resesi. Jatuhnya sektor perumahan dan ketatnya kredit dapat menurunkan pengeluaran bisnis dan konsumen hingga akhir 2008. Melemahnya dolar dapat mendorong kenaikan harga komoditas. Stabilitas keuangan merupakan kekhawatiran utama saat ini. Kasus Bear Sterns cukup efektif menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah mungkin berlanjut untuk memulihkan perekonomian AS. Fed masih ingat akan dual mandat-nya, belum kehilangan kendali atas inflasi dan tidak bermaksud begitu. Sulit untuk mengatakan apakah krisis kredit telah atau belum mereda.



Investasi Bisnis Inggris Meningkat


Investasi Bisnis di Inggris meningkat pada level tertinggi lebih dari 2 tahun di kwartal keempat, dimotori oleh perusahaan manufaktur. Investasi pada peralatan, kendaraan dan bangunan yang mengkontribusi ekonomi lebih dari 10%, naik 1.8% untuk 3 bulan hingga September. Pengeluaran naik 5.3% dari tahun sebelumnya hingga 36.7 bln Pounds, yang merupakan terbesar sejak kwartal kedua 2005. “Laporan positif untuk ekonomi U.K. karena bisnis hanya berinvestasi jika ada optimisme pertumbuhan akan datang. Tingginya investasi mendukung tingginya GDP.



Tingkat Kepercayaan Konsumen Jerman Naik


Tambahan berita positif untuk kawasan Eropa datang dari tingkat kepercayaan konsumen Jerman yang mengalahkan ekspektasi, meskipun adanya kekhawatiran terhadap inflasi dan gangguan di pasar finansial yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi yang masih bertahan. Grup riset GfK mengumumkan kemarin bahwa indeks iklim konsumen ke depan naik 4.6 poin untuk April dari 4.5 poin di Maret. Angka yang diperkirakan sebelumnya dari 22 analis adalah 4.4 poin. “Rilis ini positif untuk ekonomi Jerman, secara keseluruhan, terutama laporan tersebut melihat jauh ke depan serta sering tekanan inflasi, Tingkat Kepercayaan Konsumen Jerman dapat mulai berkurang.



Perbankan Australia Tengah Dilanda Badai


Menurut Stevens – RBA, sejumlah bank Australia ``tengah dilanda badai'' akibat jatuhnya pasar kredit global, kembali mendapat laba dan telah ``menambah'' cadangan modal, menurut gubernur bank sentral Glenn Stevens. ``Ada keterbukaan langsung yang amat sedikit terhadap masalah sub prime A.S,'' kata Stevens dalam pidatonya pada konferensi Euromoney di Sydney. “Alasan utama untuk bangkit lagi adalah pesatnya pertumbuhan ekonomi beberapa tahun, dasar tindakan pengaturan dan manajemen resiko yang bijaksana namun hati-hati.� Kuatnya sistem keuangan akan memberi keleluasaan Reserve Bank of Australia untuk menaikkan suku bunga lagi bila inflasi yang berjalan di laju tercepatnya sejak 1991 tidak menyusut. Bank sudah menaikkan bunga empat kali sejak Agustus ke level tertinggi hampir 12 tahun meski para pembuat kebijakan di A.S, Kanada dan U.K. memangkas bunga pinjaman guna mengganjal ekonominya dari perlambatan global.



Indeks Hong Kong Ditutup Menguat, Sektor Penerbangan Jatuh


Indeks Hong Kong kembali pulih dari kerugian sebelumnya dan ditutup menguat pada hari Kamis, didorong tingginya pendapatan perusahaan Cheung Kong dan Hutchison, tapi sektor penerbangan mengalami tekanan seiring kenaikan harga minyak. "Perdagangan cukup rendah karena investor tidak yakin jika pasar telah mengalami uptrend," kata Alex Tang, direktur peneliti di Core Pacific-Yamaichi International. "Pasar diperdagangkan dalam kisaran yang sempit karena investor masih belum pasti dengan prospek yang ada." Broker mengatakan bahwa investor cemas akan dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi AS yang akan mempengaruhi banyak pendapatan perusahaan lokal. "Investor sangat berhati-hati dan tidak akan menahan posisi yang terlalu lama dalam pasar yang simpang siur. Mereka cenderung membeli di level terbawah dan mengambil keuntungan ketika indeks naik," kata Tang.



Indeks Nikkei Jepang Turun 0.8%, TDK Jatuh


Indeks Nikkei Jepang turun 0.8% pada hari Kamis, dimana pembuat peralatan elektronik TDK Corp jatuh hampir 8% karena adanya berita bahwa perusahaan mungkin tidak mencapai target pendapatannya. Toyota Motor Co dan eksportir lainnya mulai goyah akibat menguatnya yen dan kekhawatiran terjadinya resesi di AS, salah satu negara tujuan untuk ekspor Asia. Menguatnya harga minyak dan komoditas mendorong penguatan saham Inpex Holdings Inc dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd, yang membantu mengurangi jatuhnya pasar. Meskipun perdagangan tipis, pasar ditutup lebih tinggi dari tingkat terendahnya, seiring investor yang tidak panik lagi dengan gejolak pasar kredit global. "Penurunan terbatas. Sentimen investor telah membaik, dibandingkan ketika pasar cemas siapa yang akan mengikuti jejak Bear Stearns," kata Norihiro Fujito, strategis investasi senior di Mitsubishi UFJ Securities.

US Market Summary on March28th, 2008

Dollar gained vs majors on news U.S. economic growth weak but positive in 4Q; data stymied EUR's retracement towards historical high vs USD, already bucked overnight by largely technical factors. Squeeze out of short USD positions last week has forced short-term speculative community to re-chase the foreign currencies this week, said Brown Brothers Harriman analysts. Quarter-end and FY-end considerations for many businesses and governments add to market's volatility - and inability to push through major barriers. 4Q GDP grew at unrevised 0.6% annual rate, as expected, in a slowdown from 4.9% pace in 3Q.


Late in New York, EUR/USD at 1.5769 vs 1.5844 Wednesday, USD/JPY at 99.77 vs 99.15, GBP/USD at 2.0036 vs 2.0081 and EUR/JPY at 157.31 vs 157.08. Tamer-than-expected interest in Fed's first Treasury swap auction took wind out of bond market's rally, though weakening stocks helped boost front end of curve late; 2-year yield down 1.0 bp at 1.71%, 10-year +4.3 bps at 3.54%. Stocks down on disappointing revenue for software giant Oracle and concerns that Google may be in similar situation, while financials such as Lehman Brothers exacerbated market declines.


Oracle down 7.2%, Google down 3.1%, Lehman Brothers down 8.9%. Dow ended off 0.97%, Nasdaq off 1.9%, Philly semicons down 1.5%. June Comex gold fell 20 cents to $954/oz, overcoming a mildly negative day to end little changed on short covering and a jump in oil prices. Nymex May crude settled $1.68 higher at $107.58/bbl, led by late season demand for heating oil futures, which settled at record high.

Thursday, March 27, 2008

Harga Lima Tahun Perang Iraq

Dengan biaya trilyunan dan korban nyawa yang tak sedikit, siapa yang menang dalam perang Iraq? Menurut Joseph Stiglitz, pemenangnya para perusahaan kontraktor



“Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.” (Condoleeza Rice, mengutip George Bush 11 Maret 21008)
Tanggal 20 Maret 2008 ini, invasi Amerika dan sekutunya ke Iraq menginjak tahun kelima. Joseph Stiglitz, peraih Nobel bidang ekonomi tahun 2001 dan professor di Columbia University, menyebutkan bahwa pemenang sejati dari perang Iraq bukanlah Amerika, bukan sekutu, apalagi rakyat Iraq, namun para perusahaan minyak dan para kontraktor.



Dalam artikelnya di The Nation (12/03/08) berjudul “The Three Trillion Dollar War” Stiglitz menyebutkan bahwa pihak yang paling menderita kerugian akibat perang Iraq adalah rakyat Iraq sendiri. Dari 28 juta penduduknya, 4 juta jiwa menjadi pengungsi di negeri sendiri (Internally Displaced Persons –IDPs) dan 2 juta jiwa mengungsi ke negara lain. Sebanyak 450.000 penduduk dan tentara Iraq telah tewas pada 40 bulan pertama dari Perang Iraq. Jumlah korban tewas saat ini telah mencapai 600.000 jiwa. Data lain dari jusforeignpolicy.org (2008) menyebutkan total warga Iraq (sipil maupun tentara) yang tewas berjumlah 1.189.173 jiwa.
Akibat invasi AS tersebut, setengah dari total dokter di Iraq telah tewas ataupun meninggalkan Iraq. Angka pengangguran kini mencapai 25% dan kota Baghdad kini hanya menikmati delapan jam listrik saja dalam sehari.



Bagi negara Amerika Serikat sendiri perang Iraq adalah bencana. Baik bencana politik, sosial, maupun ekonomi. Jumlah tentara AS yang tewas di Iraq per Februari 2008 telah mencapai 3990 jiwa. Sementara 29395 jiwa lainnya mengalami luka-luka (www.antiwar. org). Bandingkan dengan jumlah korban tewas pada peristiwa WTC 9/11 yang berjumlah 2978 jiwa (Washington Post 26/12/06).



Bencana selanjutnya adalah bencana ekonomi. Biaya perang selama lima tahun adalah sejumlah US $ 2 trilyun. Padahal di awal perang, pemerintahan Bush hanya menganggarkan US $ 50 milyar saja. Angka lima puluh milyar dollar AS kini hanya cukup membiayai perang selama tiga bulan saja.



Kendati biaya perang ini tidak sepenuhnya ditanggung AS, namun tak tak dapat dipungkiri bahwa generasi mendatang rakyat AS dan juga warga dunia mesti menanggung biaya tersebut. Hutang nasional AS saat ini adalah US $ 5.7 trilyun dan akan bertambah US $ 2 trilyun setelah perang.



Amerika Serikat juga harus menanggung biaya kesehatan dari tentaranya yang bertugas di Perang Iraq. Sebanyak 52.000 dari veteran perang Iraq telah didiagnosa mengidap PTSD (post traumatic stress disorder) dan 40% di antara 1.65 juta tentaranya harus diberikan kompensasi karena menjadi cacat (disability).



Joseph Stiglitz menyebut mahalnya biaya, baik ekonomi maupun sosial, yang harus dibayar akibat perang Iraq ini adalah buah dari ketidakmampuan dan ketidakjujuran. Tidak jujur karena alasan utama invasi AS ke Iraq adalah dalam rangka pre emptive strike untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) sekaligus menggulingkan Saddam Hussein yang ditengarai memiliki hubungan dengan Al-Qaidahh, pelaku terorisme 9/11.



Saddam Hussein memang kemudian terguling dan belakangan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan boneka AS. Namun hingga digantungnya, tetap saja AS dan sekutunya tak dapat membuktikan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal dan pemerintahan Saddam Hussein memiliki hubungan dengan Al-Qaidah.



Sebaliknya, mesin perang AS dan sekutunya justru menjadi senjata pemusnah massal yang menewaskan ratusan ribu rakyat Iraq.



Perang yang Bermasalah


Sedari awal perang ini memang bermasalah. Statusnya adalah ilegal di mata hukum internasional. Karena tak mendapatkan otorisasi dari Dewan Keamanan PBB (UN Security Council). Suatu perang hanya dapat dijustfikasi oleh hukum internasional ketika ada persetujuan dari UN Security Council, baik karena alasan membela diri (self defense) ataupun karena adanya ancaman yang nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional (threat to international peace and security), sebagaimana yang disebutkan dalam Bab VII piagam PBB (UN Charter).



Permasalahan yang kedua adalah begitu banyaknya pelanggaran hukum humaniter (hukum perang) yang dilakukan oleh AS dan sekutunya di Iraq.



Begitu banyak rakyat sipil yang tewas, termasuk diantaranya adalah wanita, anak-anak, orangtua, dan tentara yang tak ikut berperang yang semestinya harus dilindungi berdasarkan konvensi Geneva 1949.



Suatu konvensi dimana AS turut menjadi penandantangan dan pihak (party). Pelanggaran hukum humaniter yang lain adalah penganiayaan dan penyiksaan terhadap tawanan perang.



Dunia masih cukup ingat dengan penganiayaan dan penghinaan terhadap tawanan perang Iraq di penjara Abu Ghraib pada tahun 2004. Tawanan perang, yang semestinya juga wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 nyatanya dipermalukan dan disiksa dengan cara yang sangat merendahkan.



Padahal, AS adalah juga peserta dari Konvensi Anti Penyiksaan PBB (Convention Against Torture). Pelanggaran selanjutnya adalah hancurnya dan dijarahnya ratusan situs budaya dan peninggalan masa silam (cultural heritage) di Baghdad dan sekitarnya akibat perang. Padahal, situs yang berusia sama tuanya dengan era Babylonia itu wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Warisan Budaya di Masa Konflik Bersenjata.



Laporan HAM versi AS tahun 2007 Begitu banyak kecaman terhadap perang Iraq yang dilontarkan warga dunia. Termasuk di dalam negeri AS sendiri. Juga oleh para kandidat presiden AS dari partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton.



Namun toh belum nampak tanda-tanda bahwa kesengsaraan rakyat Iraq akan segera berakhir. Karena nyatanya pasukan AS dan sekutunya masih bercokol disana.



Alih-alih mengecam perang Iraq, pada 11 Maret 2008, Condoleeza Rice, menteri luar negeri AS, mengumumkan laporan tahunan HAM semua negara di dunia (Country Report on Human Rights Practice 2007 –www.state.gov). Dalam laporan tersebut, kementerian luar negeri AS mengkritisi kondisi HAM di hampir seluruh negara di dunia. Namun anehnya, tidak memberikan laporan tentang kondisi HAM di AS sendiri. Laporan tersebut menyebutkan pemerintah China sebagai otoriter dan penegakan HAM-nya cenderung lemah. Pemerintah Indonesia secara umum dianggap respek terhadap HAM, namun kelembagaan hukumnya dan kemauan politiknya lemah. Uniknya, pada bagian tentang HAM di Iraq, laporan tersebut lebih banyak menyoroti sisi perang saudara di Iraq, timbulnya gerakan separatis bersenjata, adanya kelompok yang berkomplot dengan Al-Qaidahh, teror bom dan serangan bunuh diri disana sini. Tak menyebut peran AS dan sekutunya dalam pelanggaran HAM di Iraq.



Satu keunikan lagi, di awal pidato untuk mengumumkan laporan HAM seluruh negara dunia 2007 ini menteri Condoleeza Rice mengutip kalimat Presiden George Bush : “As President Bush has said, “Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.” (kemerdekaan dapat ditahan, kemerdekaan dapat ditunda, namun kemerdekaan tak dapat ditolak).



Pertanyaannya, kemerdekaan seperti apa yang kini didapatkan sejuta lebih rakyat Iraq dan ribuan tentara AS dan sekutu yang tewas di Iraq? Bukankah yang pemenang perang Iraq, seperti analisis Joseph Stiglitz, adalah para perusahaan minyak dan perusahaan kontraktor pembangunan Iraq.

Kekuatan Baru Pejuang Taliban Cemaskan AS dan NATO

Pejuang Taliban yang selama ini dianggap kalah oleh Amerika justru kini dianggap sebaliknya. Kini, kekuatannya dianggap menghawatirkan pasukan asing



Pejuang Taliban kemarin mengumumkan, mulai dari kemarin pihaknya akan melancarkan "Ofensif Musim Semi " yang ditujukan pada tentara “boneka” Nasional Afganistan dan tentara asing di Negeri itu. Ini berarti ada “ancaman” baru bagi pasukan asing di Afghanistan.



Kekuatan bersenjata Taliban kemarin dalam pernyataan terbarunya mengatakan, aksi militer musim semi dengan sandi "Memberi Kuliah" yang akan dilancarkan bertujuan untuk memberi kuliah kepada tentara asing di Afganistan dan akhirnya mengusir mereka dari Afganistan.



Sejak tahun 2001, pejuang Taliban sudah beberapa kali melancarkan apa yang mereka disebut "Ofensif Musim Semi". Sistuasi ini dianggap mencemaskan tentara asing, khususnya Amerika. Pada tahun 2007, berbagai serangan terjadi di Afganistan menewaskan sekitar 8 ribu orang, sebuah rekor tertinggi selama 6 tahun ini. Sebagai sebab, menanjaknya kekuatan Taliban adalah unsur paling utama.



Sejak tahun ini, situasi keamanan di Afganistan terus memburuk, kerap terjadinya peristiwa ledakan bom di pnggiran jalan dan berbagai serangan bunuh diri mengakibatkan 250 orang tewas.



Kepala intelejen Amerika Serikat Mike McConnell pada bulan lalu mengakui, pasukan NATO gagal meredakan situasi Afganistan, sebaliknya terjadi momentum situasi memburuk, kekuatan Taliban sudah memperluas lingkup aksinya ke daerah bagian barat yang semula relatif tenteram dan daerah di sekitar ibukota Kabul.



Kecemasan AS



Sementara bagi pihak Taliban situasi ini jelas baik, di mana menunjukkan kemenangan melawan tentara asing di bawah komando NATO dan AS. Menanjaknya kekuatan Taliban diakui telah memperlihatkan kesulitan Amerika Serikat di Afganistan. Baru-baru ini, masalah penambahan tentara ke Afganistan sudah menjadi masalah yang sangat memusingkan bagi Amerika Serikat serta NATO sebagai sekutunya.


Seiring dengan menghebatnya ofensif Taliban selama beberapa bulan ini, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates belum lama berselang dalam suratnya kepada Menteri Pertahanan negara Eropa anggota Nato menghimbau menambah pengiriman tentara dan perlengkapan ke Afganistan.



Wakil Presiden Amerika Serikat Dick Cheney hari Kamis lalu ketika mengunjungi Afgansitan juga mendesak Nato terus mengirim tentara tambahan ke Afganistan. Akan tetapi, negara sekutu Nato menanggapinya dengan sikap dingin sehingga kontradiksi antara kedua pihak dalam mnasalah itu semain menonjol.



Bebebera negara Eropa berpendapat, Amerika Serikat terlalu banyak mengandalkan pendekatann militer dalam menyelesaikan masalah Afganistan, dan meremehkan masalah-masalah mendasar antara lain rehabilitasi ekonomi. Anggota-anggota penting NATO yang dilobi oleh Amerika Serikat antara lain Jerman, Perancis dan Italia memang sangat sulit mengirim lagi tentara ke Afganistan karena sentiment anti-perang di dalam negeri masing-masing sangat keras dan mereka sudah mengirim pasukan dalam jumlah cukup besar untuk berpartisipasi dalam aksi pemeliharaan perdamaian di luar wilayah Uni Eropa.



Selama beberapa tahun ini, pasukan Amerika Serikat dan NATO telah banyak melakukan serentetan aksi militer. Namun kenyataannya, tak mengekang kekuatan Taliban. Sebaliknya mengakibatkan rakyat biasa tewas dalam jumlah besar. Selain itu, di bawah pendudukan tentara AS dan tentara sekutunya, proses rehabilitasi Afgansitan melamban, masalah sandang pangan dan lowongan kerja rakyat biasa jauh belum diselesaikan.



Menurut analis, Amerika Serikat belum menangani dengan baik hubungan antara pemukulan militer dan rehabilitasi ekonomi, hal ini secara objektif memberikan kesempatan bagi Taliban untuk memperjuangkan dukungan Rakyat, ini justru merupakan sebab mendasar bagi kebangkitan Taliban.



Badan koordinasi bantuan kepada Aftanistan kemarin dalam lapaorannya mengajukan kritik terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Laporan itu dengan tajam menunjukkan, negara-negara Barat tidak dapat menunaikan komitmennya dalam masalah bantuan kepada Afganistan merupakan perusakan terhadap proses perdamaian Afganistan.


Tak pelak lagi, Amerika Serikat dewasa ini menghadapi banyak kesulitan dalam masalah Afganistan. Di bawah latar belakang ini, ofensif musim semi baru yang akan dilakukan Taliban tak diragukan lagi akan lebih mempergawat posisi tentara Amerika Serikat di Afganistan .